#14 Jadwal Imunisasi bayi | tabel imunisasi dan jenis imunisasi anak

Imunisasi bayi

Jadwal imunisasi bayi | sharing pengalaman

Jadwal imunisasi bayi pada tahun 2018 | perlu kah Imunisasi pada bayi dan anak?? apa aja sih vaksin atau macam imunisasi untuk bayi dan anak? sampai kapan juga imunisasi dilakukan.

Imunisasi adalah…

Halo netijen dan teman-teman semua, di artikel ini saya mau menyebutkan dan menjelaskan macam-macam imunisasi Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2017. Berhubung jadwal Imunisasi resmi 2018 belum keluar maka dari itu kita masih pakai jadwal imunisasi 2017.

Saya baru mempunyai bayi (baby zain), oleh karna itu saya harus tau dong imunisasi apa saja sih yang dibutuhkan anak saya. Sekalian berbagi pengetahuan dan pengalaman aja nih untuk temen-temen yang jadi new parents. By the way ada yang tau gak Imunisasi itu apa ? jadi Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit tertentu dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh (ya pasti udah tau lah ya hehe..) dan menurut peraturan Menteri kesehatan imunisasi wajib di berikan sesuai jadwal yang sudah di tetapkan. nah nanti akan saya unggah juga jadwal imunisasi anak usia 0 – 18 tahun Rekomendasi (IDAI) tahun 2017…ok sekarang kita mulai.

Baby zain imunisai..

 

jadwal imunisasi bayi 2018
jadwal imunisasi bayi 2018

Macam – macam Imunisasi (IDAI)

  • Hepatitis B 

Vaksin hepatitis B adalah vaksin untuk mencegah penyakit hepatitis B. Vaksin ini berisi HbsAg, yaitu suatu protein virus hepatitis B yang dapat merangsang pembentukan kekebalan tubuh terhadap virus hepatitis B (vaksinasi aktif).Vaksin hepatitis B tidak boleh diberikan pada orang dengan riwayat rekasi alergi berat (anafilaksis)

  • Polio 

Vaksin polio akan menghindari penyakit poliomyelitis yang menyerang saraf. Virus penyebab infeksi polio hidup di tenggorokan dan saluran usus yang dapat disebarkan melalui kontak cairan ataupun tinja. Polio dapat menyebabkan kelumpuhan organ tubuh dan bahkan kematian. Ada dua jenis vaksin polio yaitu vaksin polio oral atau oral polio vaccine (OPV), dan vaksin polio tidak aktif atau inactivated polio vaccine (IPV). OPV mengandung virus polio hidup yang dilemahkan agar tubuh memiliki daya tahan terhadap virus polio yang menyerang. Sedangkan, IPV menggunakan virus yang tidak lagi aktif.

  • BCG

Imunisasi BCG merupakan kepanjangan dari Bacillus Calmette-Guérin yang berfungsi melindungi bayi dari infeksi tuberkulosis (TBC). Pemberian imunisasi BCG pada bayi di Indonesia umumnya dilakukan pada usia bayi baru lahir, paling lambat diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Untuk bayi yang akan diberikan imunisasi BCG setelah usia 3 bulan, sebelumnya harus menjalani tes tuberkulin.Hal ini berkaitan dengan tingginya risiko peradangan lokal dan terjadinya bekas luka serta kemungkinan terjangkit tuberkulosis secara aktif.

  • DTP                        

Imunisasi DTP pada bayi atau balita merupakan salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah. Menurut jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan, imunisasi DTP pertama diberikan pada usia 2 bulan. Kemudian imunisasi lanjutan diberikan pada umur 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, 5 tahun, dan 12 tahun. Sehingga, total pemberiannya sebanyak 6 kali. Vaksinasi DTP dapat diberikan bersamaan dengan vaksin polio.

Tujuan Imunisasi DTP

Tujuan atau manfaat imunisasi DTP yaitu untuk mencegah penyakit Difteri, Tetanus, dan Pertusis. Cara pemberian imunisasi DTP ini dilakukan dengan cara disuntik.

Efek Samping Imunisasi DTP

Efek yang ditimbulkan imunisasi DTP umumnya menderita demam atau panas. Akan tetapi hal itu wajar, sehingga Anda tidak perlu cemas atau khawatir. Efek samping lain yang bisa terjadi pada imunisasi DTP adalah pembengkakan atau nyeri pada bagian yang disuntik.

Cara Mengatasi Bayi Panas / Demam Setelah Imunisasi DTP

Jika badan bayi panas/demam (suhu tubuh di atas 37,5°C), biasanya bayi rewel atau menangis terus karena tidak nyaman. Pada saat seperti ini, tidak sedikit para orang tua yang ingin segera memberikan obat penurun/pereda panas. Tetapi sebaiknya, pemberian pereda/penurun panas seperti paracetamol, diambil sebagai jalan terakhir. Sebelumnya, Anda bisa melakukan cara lain untuk menurunkan panas bayi, yaitu:

  1. Memeluk bayi dengan metode skin to skin (kulit sama-sama bersentuhan dengan bertelanjang)agar panas dari anak dapat berpindah ke ibu/ayah.
  2. Tingkatkan pemberian ASI (Air Susu Ibu).
  3. Kompres dengan air hangat. Mungkin Anda masih dibingungkan dengan  kompres air dingin atau panas untuk menurunkan panas, tetapi belakangan banyak dokter yang menganjurkan kompres dengan air hangat bila anak demam sebab bisa bekerja lebih baik ketimbang kompres dingin.

Ketiga cara ini, selain ampuh mengatasi bayi demam setelah imunisasi DTP juga aman karena tanpa obat.

Imunisasi DTP Panas & DTP Dingin

Saat ini ada 2 bentuk imunisasi DTP, yaitu: DTwP (yang mengandung protein pertusis utuh atau lengkap) dan DTaP (yang hanya mengandung sebagian protein pertusis). Perbedaannya, imunisasi DTwP (biasa disebut DTP Panas)  bisa menimbulkan efek samping panas/demam pasca imunisasi, sementara imunisasi DTaP  (biasa disebut DTP Dingin) jarang menimbulkan efek demam/panas pasca imunisasi. Akan tetapi meski demikian, tidak ada jaminan bahwa setelah diimunisasi dengan DTaP atau DTP dingin, bayi bebas dari demam/panas. Sebab, nantinya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kondisi balita saat diberi vaksin.

  • HIB.

penyakit ini disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Penyakit Hib, sebenarnya merujuk pada beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri Hib. Salah satunya adalah penyakit meningitis. Sebelum ditemukan vaksinnya, Meningitis (radang selaput otak) yang terjadi di Amerika Serikat paling sering disebabkan oleh Hib.

Anak yang mengalami Meningitis menunjukan gejalagejala seperti kaku kuduk, penurunan kesadaran, demam, kejang, hingga kematian. Selain Meningitis, Hib juga sering menyebabkan Pneumonia (radang paruparu), Epliglotitis (peradangan di lokasi pita suara sehingga pembengkakan dapat menghalangi jalannya napas), Sepsis (infeksi berat yang menyebar di aliran darah), Artritis (radang sendi), dan Osteomielitis (radang jaringan tulang).

Bakteri Hib adalah salah satu penghuni saluran napas atas, yang dapat ditemukan di dalam hidung sampai belakang tenggorokan. Bakteri ini ditularkan melalui percikan dahak yang mengandung kuman. Anak-anak beresiko terkena infeksi kuman ini dalam usia 2 tahun pertama dan beberapa diantaranya dapat mengalami sakit berat.

  • PCV                                              

Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia, meningitis, dan septikemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan.   Vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT. Tidak ada kontraindikasi absolut memberikan vaksin, hanya saja pemberian pada bayi yang sedang demam dapat mempengaruhi rasa nyaman bayi. Pemberian vaksin tersebut ditakutkan akan menimbulkan kekhawatiran orangtua terhadap perjalanan penyakitnya yang semakin berat padahal tidak terkait imunisasi. Untuk itu, idealnya vaksin diberikan pada saat kondisi bayi atau anak yang sehat, meskipun kondisi sakit ringan bukan kontraindikasi pemberian vaksi

  • Imunisasi Rotavirus                                                

Vaksin rotavirus merupakan langkah tepat untuk melindungi bayi dan anak-anak dari penyakit gastroenteritis (radang pada lambung dan usus). Gejalanya meliputi diare akut, muntah, demam, anak sulit atau tidak mau makan minum, dan sakit perut. Virus rotavirus ini umumnya menyerang bayi dan anak-anak dan dapat menyebabkan dehidrasi parah, bahkan bisa berujung kematian jika tidak segera ditangani dengan tepat. Kabar baiknya, Anda dapat melindungi Si Kecil dengan vaksin rotavirus yang aman dan efektif. Rotavirus sangat menular dan mudah menyebar melalui kontak fisik dari orang ke orang. Rotavirus terdapat pada tinja orang yang terinfeksi dan dapat bertahan lama di permukaan benda yang terkontaminasi, termasuk tangan seseorang. Penyebaran infeksi rotavirus adalah masalah khusus di rumah sakit dan di tempat penitipan anak, di mana penyebarannya dapat mudah ditularkan dari anak satu ke anak lainnya. Virus ini juga mudah disebarkan oleh petugas penitipan anak, terutama saat mereka mengganti popok tanpa mencuci tangan sesudahnya. Orangtua dan keluarga yang merawat bayi juga perlu sering mencuci tangan saat mengganti popok untuk mencegah virus ini agar tidak menular.

  • Influenza                                                                                      

Seringkali kita khawatir bila si kecil tertular flu atau influenza. Penyakit ini seringkali menurunkan nafsu makan anakserta membuatnya susah tidur karena hidung tersumbat. Menurut para ahli, vaksin fluadalah cara terbaik untuk mencegah anak terkena virus influenza. Infeksi virus influenza pada anak lebih berat dari pada dewasa, karena cenderung terjadi komplikasi. Kelompok rentan terjadi pada anak usia di bawah 2 tahun. Vaksin influenza trivalent inactivated influenza (TIV) diberikan pada bayi dan anak sejak umur 6 bulan atau lebih tanpa memandang ada tidaknya faktor risiko. Untuk Indonesia, vaksin influenza TIV dapat diberikan kapan saja namun terbaik pada bulan September – Oktober.

  • Imunisasi Campak                                                      

Vaksin campak adalah vaksin yang sangat efektif untuk mencegah penyakit campak. Setelah menerima satu dosis, 85% anak usia sembilan bulan dan 95% anak usia di atas dua belas bulan akan menjadi imun. … Vaksin ini juga dapat mencegah penyakit campak jika diberikan dalam beberapa hari setelah terpapar.

  • MR                                                           

Imunisasi MR diberikan untuk melindungi anak dari penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan.

  • Tifoid                                                     

Demam tifoid merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Demam tifoid dapat menyebabkan beberapa gejala seperti demam tinggi, badan terasa lemah, nyeri ulu hati, nyeri kepala, berkurangnya nafsu makan, dan kadang bercak kemerahan pada kulit. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Orang yang membawa bakteri ini dapat menularkannya pada orang lain. Penularan penyakit tifoid ini terjadi melalui makanan dan minuman. Untuk mencegah penularan tifoid, saat ini telah tersedia 2 jenis vaksin tifoid, yaitu vaksin inaktif (suntikan) dan vaksin yang berisi virus yang telah dilemahkan (oral).

  • Hepatitis A                                          

Vaksin ini berisi virus hepatitis A yang tidak aktif, yang akan merangsang tubuh untuk membuat antibodi sehingga terbentuk kekebalan aktif. … Sekitar 94% – 100% vaksin hepatitis A efektif untuk mencegah infeksi hepatitis A jika diberikan dua kali vaksinasi. Hepatitis A dapat menyebabkan demam, penyakit “seperti flu”, kuning, nyeri perut berat dan diare (anak), kehilangan nafsu makan, mual, dan urin berwarna seperti teh.

  • Imunisasi Varisela                                                                                         

Imunisasi varisela adalah imunisasi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varisela. Cacar air (chicken pox), diwajibkan oleh America Academy of Pediatric untuk diberikan kepada balita yang berusia di atas 1 tahun.

  • HPV                                                      

Jenis vaksin HPV ada tiga, yang pertama adalah Cervarix yang digunakan untuk mencegah kanker serviks dan infeksi HPV-16 juga HPV-18, vaksin ini dikhususkan bagi wanita. Selanjutnya ada Gardasil yang digunakan untuk mencegah kanker dan pra kanker serviks, vulva, vagina, dan anus.

  • Japanese encephalitis                          

Imunisasi JE diberikan untuk melindungi dari radang otak karena infeksi virus JapaneseEnsefalitis. … Imunisasi JE akan menyasar bayi usia 9 bulan.Pemberian vaksin Pnemokukus diberikan untuk bayi usia 2,3 dan 12 bulan. Penyakit ini dapat mengenai segala usia tetapi umumnya lebih sering menyerang anak-anak. Tidak semua manusia yang digigit nyamuk culex berkembang menjadi encephalitis. Masa tunas (inkubasi) penyakit JE rata-rata 4 – 14 hari. Gejala kliniknya bisa bervariasi tergantung dari berat ringannya kelainan susunan saraf pusat, umur penderita dan lain-lain.

  • Dengue                                              

Vaksin Dengue adalah vaksin untuk mencegah infeksi Dengue atau mengurangi resiko seorang anak terkena infeksi Dengue yang berat. Seperti kita ketahui, infeksi Dengue sangat bervariasi dari yang ringan hingga berat. Manifestasi klinisnya bisa ringan seperti demam Dengue atau dengan manifestasi kebocoran plasma pada demam berdarah Dengue atau yang berat seperti syok sindrom Dengue yang dapat menyebabkan kematian pada beberapa kasus.

( sumber refrensi ; IDAI )

 

Ok teman-teman sekian dulu berbagi pengalaman saya tentang imunisasi bayi dan anak, semoga anak kita sehat selalu. Buat yang mau berbagi pengalaman juga bisa sharing di kolom komentar ya, semoga artikel ini bermanfaat untuk new mom and dad.

Salam
Abi

 

[Total: 24    Average: 3.1/5]
Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *